cerpen baru nih, hmm tapi yaaa gitu, belum profesional maaf. haha
pasti banyak kekurangan. maklumin aja deh yaa. langsung aja. check it out =>
SENJA
Aku suka senja dengan langit berawarna ke merahan. Aku suka tempat ini, taman komplek yang
jarang sekali dikunjungi warga. Sejuk, tenang, dan sepi.
Disini aku mencari inspirasi untuk lukisanku.
Aku mulai menggoreskan pena ke dalam sebuah canvas.
Mencari sebuah keunikan dan keindahan. Akhirnya aku pun tertarik pada
pemandangan anak kecil yang sedang memunguti sampah itu. Bukan karena apa-apa.
tapi ‘pemulung’ menurutku bisa menjadi objek yang bagus. Apalagi pemulungnya
anak-anak, mungkin dari sini penggemar lukisan akan terbuka hatinya untuk lebih
menolong sesama J
Hari semakin sore. Beruntung sketsa gambarku sudah selesai. Kemudian aku memberi sedikit
uang kepada pemulung yang dari tadi duduk di pinggir tong sampah dekat bangku
tempatku duduk.
Aku kemudian duduk kembali di bangku taman. Membereskan
barang2 dan sesegera mungkin untuk pulang.
“lukisanmu bagus” ucap seseorang di sampingku.
Aku langsung menengok sambil mengambil tas kecil berisi
perlengkapan melukis.
“eh hai. Makasih” balasku lalu tersenyum padanya.
Dia tersenyum. Lalu mengulurkan tangannya “aku zio.”
Kemudian aku mengulurkan tangan dan berkata “aku lavina”
“maaf aku buru buru. Senang berkenalan denganmu. Bye J” ucapku lalu
melambaikan tangan ke arahnya.
Aku langsung masuk ke kamar. Berbaring di kasur dan
mendengarkan Ipod.
Aku melihat kak geral masuk ke kamarku. Earphone langsung
aku copot dari telingaku, Lalu tersenyum dan menyapa kak geral.
“hai kak” ucapku.
Kak geral tersenyum. Tanpa kata-kata dia langsung melihat
lukisanku yang masih berbentuk sketsa.
“sosialmu tinggi yaa vin” ucapnya
“hah? Maksudnya lukisanku kak?” tanyaku
“iya. Lukisan ini bagus. Sangat menyentuh hati kaka”
balasnya.
“oh. Nah itu dia. Aku ingin orang yang melihat lukisan
ini mempunya perasaan yang sama seperti kaka” balasku lalu tersenyum dan duduk
di sofa.
“tinggal kamu beri warna yang cocok, kaka yakin, lukisan
ini mempunya nilai jual tinggi” balas kak geral kemudian duduk disampingku.
“aku pun sudah memikirkannya kak J “balasku tersenyum memandang
wajah kak geral.
Tak lama kak geral memelukku, Mencium keningku dan
Memberiku sebuah motivasi agar aku lebih tegar. Kemudian berpamitan dan
kembali pulang ke kost-an nya di dekat
UI, kampusnya.
Semenjak mama memutuskan untuk memberhentikanku sekolah
dan menggantikannya dengan home schooling, aku tambah tertarik pada dunia
seni. Yang kumaksud lebih tepatnya
adalah dunia lukis. Aku memang menyukai lukisan sejak dulu. Aku pun sering
melukis. Tapi, bakat melukisku lebih terlihat ketika aku mencoba melukis
setelah keluar dari sekolahku.
Mama memutuskan aku untuk berhenti sekolah karenaaa……
Karena akuu…..
Aku mengidap kanker hati sejak 2 tahun terakhir.
Awalnya aku frustasi, pesimis dengan hidupku. Tapi
setelah aku tersadar bahwa aku tidak sendiri dan banyak yang menyayangiku, aku
lebih menikmati hidupku ini. Walaupun rasa sakit yang kualami tak kan bisa
terhapus oleh apapun, aku tetap mempunyai tekad bahwa aku yakin aku bisa.
Karena di dunia ini tidak ada yang mustahil.
{1 minggu kemudian}
Aku kembali lagi ke taman komplek dekat rumahku. Selain
menikmati senja, aku pun berniat menyelesaikan lukisanku hari ini.
Pemulung itu ternyata memang tinggal di taman ini bersama
kakaknya. Hanya saja, kemarin aku tidak melihat sang kakak. Pemulung itu
tersenyum ke arahku. Aku mencoba mendekatinya, mengajaknya mengobrol, lalu
memberinya coklat dan sedikit uang untuk mencukupi kebutuhannya. Giginya yang
ompong membuatku selalu tersenyum ketika melihatnya berbicara.
Ucapan terima kasih dari mulutnya membuat hatiku sedikit
tergores, aku pilu. Memandang seorang anak yang masih sangatlah muda sudah
bersusah payah untuk mencari uang, sangatlah menyedihkan untukku.
Tak ingin terlihat menangis di depan fahri (anak kecil
itu) aku langsung berdiri, mengusap air mataku dan mulai melanjutkan lukisanku.
Selesai. Akhirnya aku menyelesaikan lukisanku dalam waktu
yang cukup lama. Fahri terbangun dari tidurnya. Kemudian berlari kecil mendekatiku.
“kakaaa” ucapnya lalu memelukku erat.
Sungguh, aku ingin menangis.
“besok kaka kesini lagi yaa” ucapnya
“iyaa. Kalau kaka sempat yaa” balasku terbata.
“kaka jangan nangis. Nih aku kasih bunga buat kaka. Hehe.
Jangan nangis ya kakaa. Kaka kan cantik, kalau nangis, jadi jelek” ucapnya.
Aku mengambil bunga mawar pemberiannya. Walau bunga itu
sudah layu, aku tetap menghargai pemberiannya. Hatinya sangatlah tulus. Tak
lama, akhirnya tangisanku menjadi jadi karena tidak kuat menahan bendungan air mataku
yang sudah meluap.
“ini” seseorang menyodorkan tissue dari belakang.
Aku menengok, setelah mengetahui bahwa orang itu zio, aku
mengambil tissue pemberiannya.
“kamu kenapa?” tanyanya.
Aku tak menjawab, hanya melirik lukisanku dan melirik
fahri yang kembali tidur di dekat tong sampah.
“oh. Aku mengerti” balas zio.
“kamu sangat baik vin. Hatimu tulus. Sosialmu juga
tinggi” sambung zio dan tersenyum.
“yaaa. Fahri lah yang membuatku lebih bisa mencerna makna
kehidupan dan menikmati hidup ini. Walaupun…” ucapanku terputus. Aku menggigit
bibirku.
“kenapa?” tanya zio memasang wajah penasaran.
“mmm… aku punya penyakit yo” balasku. Kemudian air mataku
menetes kembali.
“maafkan aku. Aku tidak bermaksudd……”
“tidak apa-apa. sudah 2 tahun ini aku mengidap kanker
hati. Walaupun rasanya sangatsangat sakit, aku mencoba tegar. Menjalani hidup
ini dengan semampuku” balasku lalu tersenyum memandang zio.
“aku mengerti. Wajahmu sangat ceria. Aku hampir tak percaya
kalau kamu begitu. Dan aku yakin kamu mampu J
hanya dengan tekad yang kuat, kamu bisa melewatinya. Vin, kamu bisa. Percaya
padaku” ucap zio sambil menepuk pundakku.
“yo.. makasih yaa J
aku baru kenal denganmu. Tapiii entah apa yang membuatku merasa sangat dekat
denganmu. Hehe. Terimakasih yo J”
balasku.
“aku bisa menjadi sahabatmu, kalau kamu mau” balas zio.
Aku tersenyum dan memeluknya.
“kamu sering kesini?” tanyaku.
“yaaa. Setiap hari aku kesini” balasnya.
“aku jarang. Paling hari minggu, dan itupun kalau aku
punya waktu. Aku sangat menyukai senja. Menurutku, senja adalah hal paling
indah yang terlukis dilangit. Meskipun pelangi lebih indah. Hehe. Tapi aku
menyukainya” balasku.
“sibuk apa? yaa.. Aku juga sangat menyukai senja. J” balasnya
”bukan karena sibuk. Tapi, kamu tahu kan aku seperti ini,
jadi nyokap jarang memberiku waktu untuk keluar. Hari ini saja aku harus
mengendap-endap untuk datang kesini” ucapku lalu menarik kakiku.
“sure? Waw. Harusnya kamu bangga mempunyai orang tua
seperti mereka. Tidak seperti aku. Huft” balasnya lalu menaikkan kakinya
mengikutiku.
“iyasih. Tapi kan aku ingin bebas. Tidak seharusnya aku
di kurung setiap hari di rumah. Aku ingin seperti anak-anak yang lain. Aku
ingin seperti mereka yang bebas kemana pun. Aku memang sakit, tapi tak
seharusnya mereka memperlakukanku seperti ini.” Ucapku hampir menangis.
“aku mengerti. Tapi, kamu tahu aku?? Kamu tidak mengerti
aku kan?? Aku bebas dan aku liar! Aku manusia bodoh di dunia ini. Aku sempat
memakai narkoba, aku selalu pulang malam, aku sering minum. Itu karena BEBAS.
Harusnya kamu lebih mengerti! Kamu itu beruntung vin, kamu beruntung!” ucap
zio.
“maafkan aku” ucapku dan zio bersamaan.
“hey. Kenapa kamu
meminta maaf?” ucapku.
“karena aku berkata kasar padamu” balasnya.
“hmm. Maafkan aku juga ya, telah berkata kasar lebih
dahulu” aku mengeluarkan handphone untuk mendengarkan lagu. Lalu memasang
earphone dan berdiri.
“aku memang tak pantas untuk bergaul. Apalagi denganmu”
ucapku lalu meninggalkan zio.
Tapi aku tertahan. Tanganku di cengkram erat oleh zio.
Aku berhenti dan menolehnya.
“aku butuh kamu” ucap zio.
Aku tersentak. Heran dan bertanya-tanya.
“membutuhkanku? Aku tidak sekuat yang kamu lihat. Kamu
memilih orang yang salah” lanjutku lalu meninggalkannya.
Dia diam. Aku segera meninggalkan taman dan pulang
kerumah.
=>
Aku menanyakan mama tentang zio. Lalu aku memberitahu
mama kalau rumah zio juga tak jauh dari taman. Mama tak kenal, tapi mama punya
banyak teman yang tinggal di sekeliling komplek ini. Aku mendesak mama agar
menanyakan kepada temannya satu persatu. Mungkin terlalu berlebihan, tapi aku
memang ingin tahu.
Entahlah… apakah ada yang salah denganku, aku selalu
memikirkannya. Mungkin aku terlalu merasa bersalah kepadanya, atau mungkin aku
juga membutuhkannya. Atauuuuu……..
Ahh. Aku kenapa? Mungkin hari ini aku sedang tak sehat. L
=>
Hari demi hari berlalu. Hari ini, hari minggu. Aku
berniat untuk datang ke taman itu lagi. Berhubung mama sedang memperbolehkanku.
Kali ini aku datang terlambat, zio lebih dahulu duduk di
bangku taman yang biasanya aku duduki. Aku mengalah dan mencari bangku lain.
Perlahan aku jalan dan melewati zio yang sedang duduk
asyik sambil bermain gitar.
Aku ditariknya, kemudian disuruh duduk disampingnya. Aku
tak bisa mengelak, akhirnya aku mengikuti kemauannya.
Anginnya sangat kencang. Rambutku yang tergurai sampai
pinggang pun akhirnya berantakan. Rambutku tidak lurus, tapi bergelombang
dibagian bawahnya. Aku sering kesal terhadap saudaraku yang selalu menarik
rambutku karena mereka menginginkannya. Huuh-_-
Zio menatapku lurus. Aku mengerutkan dahi dan bertanya.
“ada yang salah?” tanyaku.
“mm… kamu cantik vin” ucapnya.
“kali ini aku tidak ingin membahas tentang diriku dan
bagaimana kalau ganti topik pembicaraan? -_-“ balasku sedikit ketus. Mungkin
aku sedang sensitif.
“ehiya. Kamu suka mendengarkan musik kan? Lagu apa yang
kamu paling suka? Kalau yang aku sekarang, I wish you were here. Bukan karena lagu
itu lagi ngetrend, tapi dipahami deh makna liriknya” ucapnya panjang lebar.
“aku juga suka itu” balasku.
Zio terus memainkan gitarnya dengan menyanyikan lagu yang
menurut dia ‘menyentuh’ hatinya.
Aku mendengarkan dengan sedikit kegalauan hatiku. Mungkin
karena yang dimaksud dalam lagu itu, ia menginginkan orang itu berada di
dekatnya. Aku langsung merinding, meneteskan air mata dan mencoba menahan
tangisanku. Karena ketika aku memaknai artinya, aku teringat kembali dengan
penyakitku.
Aku memang cengeng. Aku pun tahu akan hal itu.
Zio terdiam. Gitarnya ia taruh di bawah. Dia menatapku,
mencoba mengerti apa yang terjadi padaku.
“mmm sorrsorry vin” ucapnya sambil menatapku.
Dia memegang daguku lalu menggerakkan kepalaku ke
arahnya.
“kamu gapapa?” tanyanya.
Aku mengangguk. Dia melepaskan tangannya dan mengusap air
mataku dengan kedua tangannya.
“Apapun yang terjadi, share ke aku ya” ucapnya setelah
mengusap air mataku.
Aku tersenyum dan memeluknya. Hangat pelukannya, aku tak
ingin melepas pelukannya tapi aku tersadar kalau aku bukan siapa-siapa dia. Aku
hanya sahabat barunya J
dan tak sepantasnya aku seperti itu.
Setelah lama berbincang dengannya, tiba-tiba aku batuk
dan bersin-bersin. Seperti biasa darah kental mengalir dari hidungku, aku tidak
khawatir karena ini sudah biasa. Aku mencoba menutupinya dari zio, tapi tak
berhasil, dia sudah melihatnya dan langsung mengkhawatirkanku.
Aku mencoba menenangkan zio, dan aku meyakinkannya kalau
aku tidak apa-apa. Tetapi, dia tetap takut dan ingin mengantarku pulang. Aku
menyerah, sebenarnya aku tak betah dirumah, tetapi zio tidak mau melihatku
sakit, aku pun mengikuti maunya dan berterima kasih karena telah mengantarku pulang.
Setelah aku sampai rumah, mama langsung heboh
mendekatiku.
“hey mamaaa…. Aku sudah tahu kok. Hmm makasi mama sudah
berusaha mencari tahu. Hehe” ucapku.
Tetapi mama masih terus berbicara panjang lebar, dia
bilang zio itu gantenglah, baiklah, kerenlah. Yaaduu mamaaaa-_-
Letak rumah zio ternyata setelah 2 rumah disampingku. Aku
tak percaya zio telah mengetahuiku sejak lama, tetapi dia tidak pernah
menyapaku, hanya sekedar tahu tetapi tak mengenal.
=>
“zio?” kak geral tiba-tiba mengagetkanku.
“haah? Kenapa kak?” aku langsung terbangun dari kasur dan
melihat kak geral yang ternyata dari tadi membaca bbmku sama zio K
“ini. Ciee” kak geral menyodorkan handphone kepadaku.
Aku menceritakan semuanya dan akhirnya kak geral
mengerti. Dia tersenyum dan selalu menggodaku.
Kak geral ternyata juga sudah mengenal zio sejak lama,
karena dino (kakaknya zio) adalah teman baik kak geral.
=>
Aku tidak bisa menahan sakitku yang amat dalam. Hingga
akhirnya… bruk.
Vina pingsan dan dibawa ke rumah sakit oleh keluarganya.
Aku terbangun, kemudian melihat sekelilingku. Setelah
menyadari bahwa aku berada di rumah sakit dan aku akan memasuki ruang ICU, aku
langsung teringat satu hal. Zio.
“Aku sakit. Kali ini penyakitku benar-benar tak
tertolong, aku masuk ICU, dan aku berharap, setelah aku keluar aku akan
sembuh.” aku mengirim sms ke zio dengan tangan gemetar sebelum aku masuk ruang
ICU.
Aku juga meyakinkan saudara-saudaraku bahwa aku tidak
apa-apa, dan aku menyuruh mereka agar tidak khawatir. Terakhir, aku mengucapkan
terima kasih, memeluk mama, papa dan kak geral. Aku mengusap air mata kak geral
dan menyuruhnya agar tidak menangis, “kalau kaka nangis, aku pun nangis” begitu
ucapanku. Dokter memanggilku. Aku berdoa kemudian pasrah akan kehendak tuhan.
“Kalau memang kematian adalah jalan yang terbaik,
cabutlah nyawaku” ucapku dalam hati.
{2 hari kemudian}
Semuanya cemas, kanker vina sudah stadium akhir. Kini ia
masih terbaring lemah di tempat tidur. Sudah 2 hari tidak ada tanda-tanda dari
vina.
Semua teman-teman sekolahnya mengunjunginya. Beharap vina
akan sembuh dan bisa bermain kembali bersama mereka.
{seminggu kemudian}
Karangan bunga sudah menumpuk. Vina koma, semuanya
khawatir. Dan sampai saat ini zio tidak datang menjenguknya walaupun vina sudah
berpesan ke kak geral. “kalau aku
koma, tolong bilang zio” begitu pesan
vina waktu 2 minggu yang lalu.
{dua minggu kemudian}
Zio susah dihubungi. Kak geral sudah menyerah.
Vina sedikit menggerakkan tangannya dan meneteskan air
mata.
Saat itu, mungkin aku hampir mati, aku tidak tahu apa
yang ada dipikiranku. Aku meneteskan air mata karena aku tidak kuat menahan
rasa sakitku. Aku mencoba menggerakkan tanganku dengan susah payah tapi
akhirnya tak mampu.
{16 hari kemudian}
Aku mencoba membuka kelopak mataku. Tapi aku tak sanggup.
Aku lemah, aku tidak kuat. Aku merasakan tetesan air mata yang jatuh mengenai
punggung tanganku.
Pada saat itu aku ingin sekali mengatakan kepada mereka
bahwa aku tidak apa-apa. walaupun rasa sakit ini tidak bisa kutahan. Sungguh sangat
sakit. Aku pun menangis. Tetapi mereka tak bisa melihatku menangis. Mungkin mereka
hanya melihat sedikit tetesan air mata yang mengaliri pipiku.
Hingga akhirnya sedikit demi sedikit aku membuka mataku.
Silau sekali, seperti terbangun dari dunia mimpi berjuta-juta tahun lamanya.
Mama dan kak geral langsung menangis memelukku. Aku
memaksakan tersenyum walaupun susah. Aku memegang tangan kak geral perlahan.
Kak geral mencium keningku.
Aku tak bisa berlama-lama melihat, karena mungkin aku
masih sangat lemah. Ketika dokter mendekatiku aku kembali tertidur.
{17 hari kemudian}
Semua menjengukku. Kali ini aku sudah mulai kuat. Tetapi
nafasku masih bergantung pada oksigen.
Aku mengeja kata perlahan-lahan di depan kak geral. Aku
bilang bahwa a ku ti dak a pa - a
pa.
Kak geral tersenyum. Dia mengerti walaupun aku hanya
mengeja tanpa suara.
=>
Terimakasih kepada
kalian yang sudah mendoakanku. Terima kasih kalian setia mendampingiku. Aku
selalu berhutang budi kepada kalian. Maafkan aku yang selalu merepotkan kalian.
Terutama mama, papa dan kak geral. Maafkan aku L
Semua ini berkat allah dan support dari kalian. Makasih
yang selalu menyemangatiku. Kalian selalu memberiku motivasi agar aku bisa
menjalani hidupku.
Seandainya kalian tahu, mungkin kalian tidak akan bisa
menahan rasa sakit yang selalu aku rasakan. Sekali lagi terima kasih J
1 minggu kemudian.
Aku sudah di rumah. Aku sangat senang dapat kembali ke
rumah ini setelah sebulan lamanya mendekam di dalam ruang ICU.
Penyakitku sudah sembuh. Kini aku sudah seperti kalian,
anak remaja yang memiliki kebebasan untuk bergaul. Tapi aku tahu, tidak
selamanya bebas itu baik, bebas pun ada batasnya. Jaga diri adalah hal paling
utama untuk remaja masa sekarang.
Setelah mengingat kata itu, aku jadi teringat……………………….
=>
Aku berjalan perlahan menuju taman komplek. Aku
merindukan suasana disana. Aku juga merindukan fahri. Sudah lama aku tak
melihatnya, mungkin sekarang sedang bekerja. Tapiiiiiiiii….. aku mendekat ke
arah tong sampah, di situ ada ibu-ibu yang sedang memunguti kardus berkas yang biasanya
di gunakan fahri untuk tidur.
Aku menanyakan kepada ibu itu tentang fahri. Tapi tak ada
jawaban. Ibu tua itu langsung pergi meninggalkanku. Cukup aneh. Tapi aku sudah
bisa membaca kalau fahri sudah pindah.
Aku kembali ke bangku tempat biasa aku duduk.
Tak lama seseorang memelukku dari belakang. Aku kaget dan
dengan cepat menghindar dari pelukannya.
Zioooo….. ucapku pelan sedikit berbisik.
Dia menangis. Aku heran dengan sikapnya. Kemudian dia
duduk di bangku, bajunya basah kuyup, ya memang sekarang ini hujan lebat. Aku
ingin pulang tapi tak membawa payung, akhirnya terjebak disini.
Kemudian aku duduk disampingnya dan memulai pembicaraan.
“kamu kemana saja?” tanyaku.
Sudah bisa kutebak aku akan menangis, dan ternyata benar.
Aku menangis.
“maafkan aku tidak memberitahumu kalau saat itu aku
sedang berada di malaysia” jawabnya sambil menunduk.
“disaat aku butuh, kamu tidak ada. Yayaa mungkin sahabat
yang kamu ucapkan kepadaku itu hanya omong kosong” ucapku.
“tapptapii….”
“aku tahu, kak geral telah berkali-kali menguhubungimu
tapi tidak pernah kau angkat dan sering kau reject. Mungkin aku telah
merepotkanmu. Dulu kan aku sudah bilang kalau aku ini penyakitan. Jadi maafkan
aku yang selalu merepotkanmu” ucapku memotong pembicaraannya.
“maafkan aku vin…. Aku menyesal. Sangat menyesal.”
Balasnya.
“hanya kata menyesal? Aku memang tak seharusnya juga sih
menyuruhmu datang kalau kamu memang tidak menganggapku sebagai sahabat.
Ternyata ‘sahabat’ itu omong kosong.” Ucapku lalu berdiri.
“vin…. Hujan” ucap zio.
“memangnya kamu peduli? Aku hampir mati saja kamu tidak
peduli” ucapku ketus lalu meninggalkannya. Tidak peduli walaupun hujan pasti
akan menerpaku.
Ketika aku sudah sedikit menjauh. Zio berlari dan
memelukku. Kemudian menarikku kembali ke taman.
Aku diam duduk di bangku, sementara zio berusaha
menghangatkanku.
“sungguh. Aku sangat dilema saat itu vin” ucap zio sambil mengusap air hujan di wajahku
dengan kedua tangannya.
Aku diam dan menepiskan tangannya. Sementara dia terus
memandangiku.
“saat itu, orang tuaku bercerai dan persidangannya
menghabiskan waktu yang cukup lama. Kakakku tidak menerima akan hal itu, dia
kebut-kebutan di jalan raya dan akhirnya tabrakan. Aku frustasi. Saat itu yang
dipikiranku, aku benar-benar ingin mati. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain
menemani kak dino di rumah sakit. Aku ingin sekali menjengukmu, tapi aku tidak
bisa meninggalkan kak dino yang masih tidak sadarkan diri sendirian di rumah
sakit. Maafkan aku” ucapnya.
Aku menunduk. Mengingat kembali ucapanku yang tadi aku
lontarkan ke zio. Akhirnya air mataku tak terbendung, aku menangis.
Aku memandang wajah zio yang masih merasa bersalah,
kemudian aku memegang wajahnya dengan kedua tanganku. “maafkan aku” ucapku lalu
memeluknya erat.
Aku menangis dalam pelukannya.
“aku egois yo. Aku egois. Maaaaaf L” ucapku dalam pelukannya.
Aku melepaskan pelukannya, dia menatapku dan tersenyum.
Aku memeluk badanku dan dia mencoba mendekat dan
memelukku.
“sudah hangat?” tanyanya.
Aku tersenyum malu. Pipiku mungkin merah merona seperti
udang rebus. K
“kamu mau tahu perasaanku saat ini?” tanya zio.
“ya” jawabku.
“aku sayang kamu” ucapnya sambil tersenyum.
“aku juga” balasku
“tapi……….” Ucapku dan zio bersamaan.
“kita kan sahabat” lanjutku dan zio serempak.
Aku sedikit tertawa. Dia pun juga ikut tertawa.
Baru saja berakhir
Hujan di sore ini
Menyisakan keajaiban
Kilauan indahnya pelangi
Tak pernah terlewatkan
Dan tetap mengaguminya
Kesempatan seperti ini
Tak akan bisa dibeli
Bersamamu ku habiskan waktu
Senang bisa mengenal dirimu
Rasanya semua begitu sempurna
Sayang untuk mengakhirinya
Melawan keterbatasan
Walau sedikit kemungkinan
Tak akan menyerah untuk hadapi
Hingga sedih tak mau datang lagi
Janganlah berganti
Janganlah berganti
Janganlah berganti
Tetaplah seperti ini
2 komentar:
bagus banget (padahalenggakmudeng)
(¬_¬) keep writing yaa
yap (y)
Posting Komentar