Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Januari 2012

senja ^.^

Diposting oleh Unknown di 07.26 2 komentar
haiii............
cerpen baru nih, hmm tapi yaaa gitu, belum profesional maaf. haha
pasti banyak kekurangan. maklumin aja deh yaa. langsung aja. check it out =>

Jumat, 23 September 2011

putri kecil :)

Diposting oleh Unknown di 08.31 0 komentar

Haallo kembali lagi dengan cerita pendek dari aku!
Mau tau, mau baca??? Stay in my blog yaa J



Putri kecil

Hari ini terpaksa aku (ega) pulang sekolah lewat jalan kampung yang jarang aku lewati. Kusam, kotor, dan menjijikan bagiku. Karena alasan supirku sakit, beginilah nasibku -_-

   Bulu kudukku Merinding seketika melewati jalan sempit yang diapit bangunan besar di sampingnya.
Seketika itu Terdengar suara merintih, entahlah mungkin hanya imajinasiku belaka atau mungkin …?
Semakin dekat kearah jalan keluar, suara itu semakin dekat denganku..
“hallo, ada orangkah?” teriakku yang kemudian diikuti suara gema. Suara itu terdengar seperti…. Nah itu, itu dia orangnya.. aku melihat seorang perempuan yang bersandar pada sebuah tembok di ujung jalan sempit. gaunnya panjang berwarna putih dan kusam, rambutnya tergerai lurus dan wajahnya sangatlah pucat.  Perasaanku aneh, antara takut dan penasaran. aku bertekad untuk mendekatinya, ya aku akan berusaha. Begitu batinku.

“hai” sapaku.
Dia masih tertunduk lesu dan terus menangis.
Aku duduk disampingnya dan mencoba menenangkannya. “kamu kenapa? Don’t cry J” ucapku.
Dia membalas responku kali ini dengan mengangkat kepalanya dan menatapku lalu tersenyum.
“ada apa denganmu? Kenapa disini?” tanyaku penasaran.
“aku,aku ingin bertemu ibuku. Aku sangat merindukannya… sungguh.” Ucapnya sambil mengusap air matanya yang masih terus mengaliri pipi mungilnya.
“dimana ibumu??” tanyaku.
“di kampung daerah sini. Ini tempat terakhirku… aku tak mungkin kesana karena aku sudah lama pergi darinya, dan ibuku pasti akan heran dan tidak percaya, aku tak bisa -.-“ balasnya lalu memandangku.
Apa maksud dia? -_-
“why?? Ayo aku antar, pasti ibumu menghawatirkanmu.. kalau boleh tahu umurmu berapa?” balasku membalas tatapan matanya.
“aku tidak bisa, maaf! Umurku 13 thn. Hmm boleh kutanya namamu?” jawab perempuan itu.
“aku rega panggil aja ega.. wah umurku 14 thn. Aku dan kamu hanya beda satu tahun.. putri kecil J” balasku
“ohh ega terima kasih atas semuanya, aku tak bisa lama2 karena waktu sudah larut malam, kamu sangat baik. aku pamit” ucap putri kecil lalu berlari menjauhiku dan tak lama kemudian tidak terlihat lagi dari pandanganku.

Aku lupa. Aku bodoh. Kenapa aku tidak menanyakan namanya. Siapa dia? Dia mau pulang kemana? Bukankah rumah ibunya di daerah sini?. Kenapa tadi aku diam dan tidak mencegah dia untuk tidak pergi dahulu. Bodoh! Benar benar bodoh. Aku tak tahu apakah nanti akan berjumpa lagi dengannya. Aku ingin membantu untuk menemui ibunya…. huh

Sepanjang perjalanan pulang aku memikirkannya.. sampai tidak menyangka bahwa aku sudah sampai depan rumah.
Hari sudah larut malam, matahari pun sudah terbenam. Aku yakin pasti mama marah dan menasihatiku dengan panjang lebar.

“eh dari mana saja kamu ga? Sudah malam gini baru pulang.” Ucap mama yang sudah menjagaku di pintu masuk dari tadi.
“mamaaa…. Tadi tuh ada pelajaran tambahan, jadi pulang sore, dan tadi pak juju gak bisa jemput juga kan ma. Yaudah terpaksa jalan lewat kampung! Gak biasanya loh aku mau jalan, bukannya mama sendiri yang nyuruh aku biar mandiri?” haha aku membuat alasan yang mungkin mama akan percaya dengan perkataanku tadi.
“serius kamu tadi ada pelajaran tambahan? Yaudah sana ganti baju. Lain kali bilang dulu!” ucap mama.
Yess berhasil.
“iya ma… okedeh” balasku lalu berlari ke kamar karena rasanya tulang2 badanku remuk. Capek.

=>

Mengingat putri kecil tadi… aku jadi senyum senyum sendiri! Dia cantik, lembut dan manis. Masa sih aku menyukainya?. Dia sangat beda dari perempuan yang sudah pernah aku temui. berry, sherra, casey dan yang lainnya… memang mereka itu keren, gak kampungan dan tau sendiri lah anak2 gaul kayak gitu.
Tapi putri kecil sangat baik… aku mengaguminyaa J

=>

“cieee egaa bawaannya sumringah banget. Gue tahu nih. Kalo kayak gini pasti dapet pacar baru, atau, atauu….” Ucap nezel waktu aku tiba di sekolah.
“ mulai dehhh…. Wahahah engga engga. Mana pacar barunya? Ngarang banget lo zel” balasku lalu join dan duduk diantara teman2ku.
“siapa lagi nih? Ketsha? Atau reva? Atauuu…”
Pletak… aku memukul kepala dewa dengan buku yang ada di meja. Entah punya siapa.
“yaelah bercanda doang ga.. maafkan gue ga, salah gue apa sihh? Kan Cuma ngomong blak2an.. -_-“ ucap dewa.
“wekwekwek dasar dewa… udah deh yok masuk” balasku lalu berdiri dan meninggalkan mereka.

=>

Pulang sekolah. Hem rasanya aku ingin pulang sendiri lagi, tau kan alasannya kenapa. Itu lah, aku ingin bertemu putri kecil. Hey! Bukan karena aku menyukainya, tapi satu hal, aku masih ingin membantunya. J

Aku baru saja menelfon pak jueng agar tidak menjemputku hari ini. Mama juga pasti bingung akan sikapku yang aneh seperti ini. Tapi yasudahlah mama juga pasti bangga karena menurut dia aku sudah lebih mandiri :D

=>

Terlihat olehku seorang perempuan kecil dengan gaun putih kusam yang sedang bersender pada sebuah tembok. Tak salah lagi, pasti putri kecil. Ya benar. Dia sedang merenung . tak tahu apa yang sedang dipikirkannya.

“ega” ucap putri kecil. Dia sudah menyadari keberadaanku walau badan dan kepalanya tidak menghadapku.
“iya. Ini aku. Kamu kenapa? Kamu setiap hari disini putri kecil?” balasku lalu duduk disampingnya.
dia mengangguk lemah. Dan pandangannya masih lurus kedepan.
Banyak pertanyaan dalam otakku yg ingin aku katakan padanya. Tapi aku bingung, aku takut menyinggung perasaannya, aku takut, bahkan sekarang aku gemetaran dan keringatku bercucuran.
“ka kamu ittu pegang apa?” ucapku berusaha untuk tidak menanyakan hal yang sudah aku rencanakan dari kemarin, karena aku takut. Dan kali ini aku melihat selembar surat lecek yang dilipat dan ada bunga mawar merah layu diselipkan di dalamnya.
“ini, hem ini surat untuk mamaku. Sebenarnya aku ingin menitipkan ini padamu. Tapi aku takut kamu keberatan.” Balasnya lalu menatapku.

Aku kaget ketika ia mentapku. Bukan apa2, tapi karena satu hal, kenapa mukanya lebam? Banyak memar. Aku semakin prihatin padanya. Aku tambah penasaran. keringatku bertambah banyak dan kini aku hampir ‘gak’ kuat akan semua kenyataan ini. Dan kali ini aku merasakan AKU TAKUT SAMA PUTRI KECIL. Aneh. Aku ingin menjauhinya tapi aku tidak tega. Dan dia juga ingin menitipkan surat padaku. Apa boleh buat. Tapi rasa takutku kali ini benar  benar tidak wajar. L

“hai kamu kenapa ?” Tanya putri kecil menggoyangkan tanganku pelan.
“hmm m ga papa. Hehe” balasku sambil mengusap keringat.
“ini. Aku titip yaa. Kamu ga keberatan kan? Ini alamatnya, kamu ga akan kesasar karena aku yakin tidak jauh dari sini. Dan aku harap secepatnya ya mengantar surat ini. Jangan sampai tanggal 13.” Balasnya lalu menyerahkan surat itu padaku.
“iya. Aku usahakan. Oh ya, namamu siapa kalau boleh tahu” ucapku lalu memasukkan selembar surat itu ke dalam ransel.
“aku ayas. Aku tidak bisa lama2. Terima kasih ega” ucapnya lalu tersenyum ke arahku.
“tungguuuu” teriakku.
“kenapa?” tanyanya.
“aku akan mengantarmu kali ini. Harap jangan bantah. Aku ingin mengetahui rumahmu agar aku bisa mengunjungimu.” Ucapku lalu berlari kecil untuk menghampirinya.
“yasudah” balasnya.
Kemudian aku mengekor di belakang dia.

=>

Sudah sore sekali. Bahkan hampir maghrib. Sungguh aku takut diomelin mama. Tapitapitapi rumah ayas sangat jauh. Tanggung kalo balik, karena katanya dikit lagi sampai. Yasudah aku mengikutinya.

“jauh sekali rumahmu.” Ucapku
“siapa yang suruh kamu ikut. Ini, didalam sinilah rumahku. Sudah jangan ikut masuk, karena sudah malam. Pulanglah. Terima kasih telah mengantarku . aku pulang dulu.” Ucapnya lalu menghilang dari pandanganku.

Aku masih tidak percaya. Rumahnya? Hutan? Hah? Tapi positive thinking aja. Karena aku yakin didalam hutan itu ada rumah yang mungkin aku tidak tahu.
Lalu aku bergegas pulang dengan lari kencang meninggalkan hutan itu karena aku takut dihukum mama.

=>

Lagi lagi aku pulang kena omel mama. Kali ini mama tidak percaya dengan omonganku, karena mama sudah mendapat bukti dengan menelfon teman2ku. nasib.

Tok tok tok.
Aku Kaget ketika sedang mengeluarkan surat yang tadi ayas titip tiba2 ada suara ketukan pintu.
“masuk” teriakku.
“heey..” balas kak galdi setelah duduk disampingku.
“hee.. ada kakak” balasku.
“baru pulang ya? Ehh itu itu apa?” Tanya kak galdi sambil menunjuk surat lecek itu yang aku taruh di meja belajar.
“itu. Ohh itu surat” jawabku lalu kembali konsentrasi pada laptop untuk mengerjakan tugas sekolah yg terlantar.
“surat? Kok lecek? Dari siapa?” Tanya kak galdi lalu mengambil surat itu.
“eeh jangan dibuka.” Aku langsung merebut surat itu dari tangan kak galdi dan memasukkannya kedalam tas.
“dari siapa? Pacar yah?” Tanya kak galdi.
“ihh bukan. Dari ayas. Kakak kenal?” tanyaku.
“ayas? Ayas? Ayas mana? Yang rumahnya di didekat jalan sempit itu bukan?” tebak kak galdi.
“iyaaa.. kok kakak bisa tahu” balasku lalu menatap wajah kak galdi.
“oh hm mm ga,ituu waktu kecil mm suka lewat depan rumah” jawabnya.
Lalu kak galdi pergi meninggalkanku tanpa pamit.
Kak galdi kenapa? Aku nanya serius, malah kayak orang aneh gitu jawabnya.-_-


=>

Pulang sekolah kali ini aku berniat untuk pulang sendiri lagi, Karena aku ingin meminta maaf ke ayas belum bisa mengantarkan surat yang dititipkannnya.

“yas” panggilku seketika sampai di jalan biasa tempat merenungnya ayas.
Ayas lalu menengok ke arahku. Aduuh. Apa yang aku rasakan sekarang? Bulu kudukku serasa berdiri. Melihat muka ayas yang terlalu pucat, aku jadi tambah takut, ingin sekali aku kabur dari sini. Tapi satu hal yang belum aku selesaikan, aku belum mengantarkan surat titipannya.-_-
“mmmm, aku, aku belum bisa memberi surat ini pada ibumu yas. Maaf yah” ucapku sambil mengeluarkan surat pemberiannya.
“oh tidak apa2. Tapi aku harap kamu segera mengantarkannya. Mm ga, kamu sangat baik. sungguh aku sangat senang mempunyai teman sepertimu. Terima kasih ga… aku harus pergi. Semoga kita berjumpa lagi” ucap ayas lalu berlari meninggalkanku.
“hey…. Aku, akuuuuuu” TELAT. Dia sudah pergi jauh dariku.
Huuuuh!! Dia kenapa sih? Ada yang salah denganku? Kenapa???

=>

Dengan langkah terburu2 aku segera pergi menuju alamat yg sudah dicantumkan oleh ayas di depan surat.
Naah… itu dia rumah menurut petunjuk ini. Semoga benar!
“permisi” ucapku.
Tak ada jawaban.
“ada orangkah?” teriakku.
“iyaa tunggu sebentar” balas seorang ibu.
Huh syukurlah.
“mmm… ada apa ya?” Tanya ibu itu.
“ibu, benarkah ibu orangtuanya ayas?” tanyaku.
“ayas? Laras? Iya saya orang tuanya. Ada apa ya?” balasnya
“mm saya ingin mengantarkan surat ini pada ibu” balasku lalu mengambil surat yang tersimpan di dalam tasku.
“apaaa? Surat?” ucap ibu itu dengan suara meninggi.
“iya bu, ini” balasku lalu menyodorkan surat itu padanya.
Dengan tergesa2 ibu itu membacanya, tak lama air matanya mengalir, semakin deras, dan semakin deras.
Aku masih dengan tampang bodoh keluar mengikuti ibu yang berlari ke suatu tempat yang aku tak tahu arahnya.
Tunggu…………………………………
Tempat ini, tempat ini hutan. Hutan? Hutan? Rumahnya ayas? Yaa, mungkin ibu ingin menemuinya..

Setelah lama aku mengikuti ibu masuk ke dalam hutan. Ibu itu menjatuhkan surat yang dari tadi digenggamnya.
“ayasssssssssssssssssssss” teriaknya.
Aku mengintip dan melangkah ke depan. Penasaran Apa yang sedang ditangisi sang ibu.
Seketika itu…
Aku pilu melihat kenyataan yang sebenarnya, tak bisa berkata apa2, mungkin sekarang aku jadi patung dengan tampang bodoh yang memang bodoh!
Aku tidak kuat, saat ini aku bungkam. Sedangkan ibu masih terus menangis dan menangis..
Aku melangkah mundur, pelan, pelan, lalu aku berlari sambil mengusap air mataku dipipi.
Semakin aku melupakan semuanya semakin aku menangis. L

=>

Aku langsung masuk menabrak pintu. Melewati kakakku yang sedang bingung menatapku, lalu masuk kamarku.
aku duduk di sofa. Entah apa yang kurasakan sekarang. Semuanya jadi aneh.

“kakak tahu semuanya ga” ucap kak galdi sambil duduk di kasurku.
Aku tak melihat kak galdi ada dikamarku. Yang aku tahu, barusan dia di bawah menonton tv.
“tau apa sih kakak?” balasku sewot kali ini.
“ga usah sewot. Ya kakak tahu ayas itu siapa” balas kak galdi.
“trus?” aku berdiri di depannya dan menatap tajam ke arahnya.
“jangan bikin aku sakit lagi kak” sambungku kemudian berlalu dari hadapannya.
“siapa yang mau bikin lo sakit?” kak galdi mencegah aku keluar kamar dengan mencengkram pergelangan tanganku erat.
“lepas kak lepas. Udahlah buat apa sih ngomong sama aku? Toh akunya gak bakal dengerin omongan kakak” balasku kembali menatap kak galdi.
“eh boy. Cengeng banget sih! Ga malu sama jenis kelamin lo? Hah?. Kakak cuuu…”
“mau apa lagi ka??? Aku tau kok kak.  ayas itu udah meninggal 2minggu yang lalu. dia dikubur di hutan sebelah. Arwahnya masih gentayangan karena dia belum bertemu ibunya. Dia diperkosa di jalan sempit yang sering aku lewati. Aku sering lihat dia pucat ya karena dia MAYAT. Aku sering liat muka dia lebam karena dia DIPUKULIN sebelum di perkosa. Kenapa aku disuruh kasih surat ke ibunya dia sebelum tgl 13? Karena hutan itu akan digusur.
Dia MAYAT kak MAYAT. Apa udah cukup kak?? Kenapa kakak gak kasih tahu aku sebelumnya? Kakak suka aku kayak gini? Aku suka dia kak…… tapi bukan itu yang bikin aku sedih. Aku ga percaya akan semua ini. Padahal aku berharap ini ada ujungnya, ya memang ada ujungnya, ujungnya ketahuan dia itu udah meninggal. Tapi bukan itu yang aku mau!!!!” ucapku memotong pembicaraan kak galdi dengan air mataku yang mengalir tak terhenti.  Lalu aku menjatuhkan diriku ke kasur.

“gue ga mau kayak gini ga. Gue kakak lo. Gue Cuma pengen lo yang tau sendiri. Percuma juga kalo waktu itu gue kasih tau lo duluan. Lo juga gak bakal ngerti dan gak bakal percaya sama omongan gue.” Ucap kak galdi masih berdiri di depan kasurku.

“kapan sih kakak ngehargain adiknya sendiri? Ga usah pake gue elo kak…. Ga enak banget tau ga si. Emang aku siapa kakak pake gue elo?
Iyah, pasti aku ga akan percaya. Tapi kalo kakak kasih tau duluan, aku gak bakal sesedih ini kak…. Paling aku Cuma: OH bener ternyata omongan kak galdi! Ga sedih sampe termewek mewek kayak gini! Udah keluar deh kak. Aku gak mau diganggu.” Balasku lalu menutup muka dengan bantal.

“ga. Maafin aku ya” balas kak galdi lalu keluar dari kamarku.

=>

Setelah lama tertidur.
Aku melihat surat yang sama persis aku kasih ke ibunya ayas.
Aku segera mengambil surat itu.

Ga….
Makasih banyak ya J
Sekarang aku udah tenang. Aku emang udah gak ada. Tapi aku akan ada kalo kamu butuh aku J
Aku seneng banget punya temen kayak kamu.
Aku sayang kamu ga…
Makasih atas selama ini.

Aku akan tetap menjadi putri kecilmu
-ayas


THE END


nb: maaf masih jelek J yadduu masih ada loh cerpen dari aku In here, just in my blog.
      tapi ga banyak -_- dan masih berantakan.
      Want to read? Check: my label “cerpen”.
      Thankyou :*

Minggu, 03 April 2011

cinta pertama dan terakhir (ending)

Diposting oleh Unknown di 05.32 0 komentar
***

Huaaahh………..
Aku mengucek ngucek mataku, lalu melihat ke arah jam dinding.
Huftt baru jam 9…
Ehh
Apaaa??? Jam 9???
“Kaaaaaaaaakk reeeeeee…….” Teriakku
“hey, hey.. kamu kenapa?”  balas kak re yang masih nyantai duduk di sofa sambil nonton tv.
Aku langsung menghampirinya. “ihh kok gak dibangunin sihh.. udah jam 9 nih.. ahh” ucapku dengan tatapan sinis ke arah kak re, lalu pergi dari hadapannya.
“aneh” bisik kak re pelan.

Aku buru2 ke kamar. Mengambil handuk lalu ke kamar mandi…
Bener bener sial. Tommy pasti marah!
Huft..
Pagi ini kamarku bener2 berantakan, aku mengambil baju gak pake perasaan.

“viraaaaa… ada temen kamu” teriak kak re keras.
“iyee sabar” balasku rada emosi.

Selesai.
aku mengambil kemeja yang dibuat mama untuk tommy.
Aku langsung lari ke bawah. Untung semalem kak re beliin aku semacam penyangga kaki, jadi aku jalan udah ga ribet pake tongkat.

“dia kenapa sihh?” Tanya ka re bermaksud untuk tommy.
Tommy mengangkat bahu.
Rese. Kan dia yang punya acara, aku yang ribet kayak gini. Hufftt…
“udah yok.” ucapku
“gak salim pir?” Tanya kak re.
“enggak” balasku ketus.

Aku membuntuti tommy keluar rumah.
Sampai depan, dia langsung menyalakan mobilnya.
Gak sampai hitungan menit mobil udah jalan keluar rumah.

“lo marah ya tom? Sorry lama” ucapku ditengah keheningan.
“heemphempp” tommy menahan tawa.
“siapa yang marah?” Tanya tommy.
“yah kalo gitu ngapain tadi gue lari2 kesana kemari. Gue takut lo marah” balasku.
“hahah nggak lagi. Emang ini jam berapa?? Baru jam setengah Sembilan ceceeeep” ucap tommy sambil menatap mataku.
“haaah?” aku sungguh tak percaya.
Aku menarik lengan tommy dan melihat jamnya. Iiyyaa baru jam setengah Sembilan.
“hayyoo.. ngigo apa tadi?” Tanya tommy.
Pipiku merah merona, aku sungguh malu…
Argghh mataku yang terlalu sipit atau gimana sihh..
“ciee maluu” ledek tommy.
“ahh diem ahh” balasku.

Aku menggigit bibir bawah..
Aaahh maluu!!


Arrive at café.
Ragu ragu aku mengeluarkan kemeja buatan mama.
Tommy dari tadi sibuk memanggil pelayan.

“eheemm… tomm, nih bajunya” aku menyodorkan kemeja itu padanya.
“haapaan? Cep gue kan kemarin bercanda.” Balasnya.
“yaudah deh kalo gak mauu.. kasian nyokap gue udah buatin ini” ucapku sambil memasukkan kemeja kedalam tas.
“ehh iyaiya, sini gue pake. Gitu aja marah” balasnya lalu mengambil kemeja yang hampir aku masukkan ke dalam tas.

“shilla ya tom?” tanyaku.
“mau pesen apa?” Tanya tommy.
“sama kayak lo deh. Eh tomm lo cocok pakai kemeja itu” balasku.
“iyalah, baju apapun di gw masuk aja secara gue ganteng.” Balasnya sambil mengedipkan mata.
“yeeh”
Tommy langsung memesan makanan.
Aku melihat ke sekililing. Mana shilla? Lama banget. Apa jangan2 dia cemburu ngeliat gue sama tommy?
Pelayannya sudah datang ke mejaku dengan membawa makanan yang begitu banyak.
 “kebiasaan yaa. Lo makan banyak banget” ucapku sambil melihat semua makanan yang dia bawa.
“heheh.. yaudah lah ayo makan” ajaknya.
Aku mulai makan, tapi sebelum aku makan aku melihat sekeliling supaya cewek yang dimaksud gak marah.
“mana sih shilla?” tanyaku.
“heemm…” tommy lamgsung mengelap mulutnya dengan tissue dan minum air putih.
“shilla?” Tanya tommy.
“iyaa…” balasku.
“gue ga suka shillaa…” balasnya.
“trus siapa” tanyaku.
“elo” ucap tommy mengagetkanku.
Perlahan tommy menggenggam tanganku.
“maksud?” tanyaku
“gue suka sama lo cep” balas tommy
“gue mau kok jadi cinta pertama dan terakhir lo” lanjutnya..
“mau gak jadi pacar gue?” Tanya tommy masih menggenggam tanganku.
“hmm” balasku mutar otak.
“aahh lama.. gue kelitikin nihh” tangan tommy udah siap maju dan menuj pinggangku.
“aahhahh iya iya. Stop” balasku.
“tuhkan.. chev, gue dari dulu suka sama lo.” Balasnya lalu beranjak dari kursinya.
Tiba tiba dia berhenti di sampingku
dan.. dia mengecup pipiku lalu berkata “jangan tinggalin gue ya” lalu pergi.
“woyy.. ini siapa yang bayar?” teriakku….

~~~~~~~~END~~~~~~~~~

cinta pertama dan terakhir (2)

Diposting oleh Unknown di 05.29 0 komentar
Rumah sepi….
Seperti biasa mama selalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai fashion desainer.
Papa sama mama udah pisah setahun yang lalu. Pekerjaan mama yg pulang selalu larut malam itu lah yang membuat papa tidak betah akan kondisi saat itu.
Tepat saat tragedy dipuncak setahun lalu, papa dan mama sedang berada di meja hijau, dimana tempat terakhir untuk saling mengecup kening.
Aku sangat shock atas kejadian setahun lalu yang membuat aku kehilangan papa dan kakiku.

***

Hujan masih terus membasahi kota yang ramai ini.
Aku bertengger di sebuah sofa yang menghadap ke arah jendela, ditambah secangkir teh ditanganku untuk menghangatkan badan.

Handphoneku berdering…  Aku berjalan pelan menuju tempat tidur. terlihat 3 sms masuk di layar yang dari tadi belum sempat aku buka.
Tommy?

From tommy.
Chev, besok nonton yok!! Ada bintang sama shana kok.

Reply
Besok? Yeeh Bsk gue maunyari baju sama nyokap tom. Sorry ya

From tommy.
Abis ke toko kan bisa? Harpot lohh!! Baru keluar.

Reply
Gue udah janji trus mau diapain lagi? Mama gue minta temenin seharian buat belanja baju.
Lo tau kan jarang jarang nyokap ada waktu buat jalan bareng gue.

From tommy.
Iya sihh.. yah sayang dong! Padahal gue udah pesen tiket 4 loh.
Yaudah gue ajak canser deh.
Oke selamat jalan jalan yaa… sekalian bilang nyokap lo. Bikinin gue baju.



Reply
Heheh iya… sip sip J

###

Sayang… 2 hari yang lalu aku sudah terikat janji sama mama.
Rasa kangen yang menyelimutiku yang membuat  aku setuju dengan ajakan mama yang membosankan itu.
Sudah lama aku tak melihat wajah mama. Mungkin hampir seminggu sudah, mama pulang larut malam dan pergi ketika aku belum bangun.
Sekarang mama juga sering membelikanku dress/baju, lengkap dengan aceccorisnya yang manis dan ga terlalu berlebihan, tapi itu ga membuatku bangga karena mama hanya menaruh hadiah itu di ruang tamu tanpa sepengetahuanku.

###




“Mah, tommy minta dibikinin baju tuh!” ucapku ketika sampai di toko mama setelah mengantar mama pergi belanja.
“oh boleh.. tomy suka gaya apa?” balas mama menyetujui.
“yaa gaya gaya anak gaul gitu deh! Kemeja juga gapapa mah dia sering pake, tapi bikin kesan beda aja” balasku sambil melihat wajah mama yang sampai sekarang masih cantik.
“ohh yaya mama ngerti. Oke besok juga jadi. Mama lagi ga banyak order” mama mengeluarkan bahan bahan dari shopping bag.
“hah bener mah? Okedeh biasa, taruh di meja depan kamarku aja ya mah. Aku pulang deh kalo gitu dahh” balasku lalu mengambil kruk yag aku sandarkan tadi di dekat jendela.

***

Tommy..
Chev, besok ada dirumah? Jalan nyokk.. gue lagi butuh temen. Please.

Chevira…
iya. Pelas pelis, yee kebiasaan nih satu! Kalo ada maunya ajedeh..

Tommy..
Heem, Iyadeh map.
Ayodong jalan, gue mau ketemuan sama seseorang, dan mungkin lo bisa bantu gue biar gak nervous

Chevira…
Siapa?? Cowok??

Tommy..
Bukan, cewek.. kenapa emang? Envy? Ayolah please besok doang.

Aaaa…… iaaa gue envy kalo lo mau ketemu cewek. Kenapa lo mesti ngajak gue? Yang ada, lo seneng, mata gue sakit Gak akan kuat kalo gue ngeliat lo berduaan.
Apa lagi nanti gue Cuma jadI obat nyamuk.

Chevira..
Aah, yang ada gue didiemin.. and gue Cuma jadi obat nyamuk buat lo berdua. Udahlah lo kan playboy. Pasti udah biasa dong. Masasih gitu aja ga bisa.

Tommy..
Kalo lo ga mau. Gue akan marah sama lo selamanya.
Gue serius chev. Plis

Haaah? Kenapa sampe segitunya sehh?
Katanyaa playboy.

Chevira..
Yaudah terserah lo deh..

Tommy..
Oke besok jam 9 gue jemput lo!
 Btw makacih cecep cuantex

Chevira..
Ihh mulai deh tommy alaynya..

##

ka renald datang langsung mengagetkanku hingga akhirnya aku terbangun dari mimpi indahku malam ini.
Jam 3… Biasanya masih tertidur pulas dalam pulau kapuk. Tapi kayaknya kak re pingin aku marah!! Mungkin dia udah lama gak denger ocehanku..makanya baru arrive langsung ngagetin-_-

Huft..
Kak re makin jauh banget dari yang dulu, sekarang rambutnya gondrong, badannya tambah tinggi… gantengnya juga bertambah!! :p

Aku berjalan menutup mata menuju kamar mandi yang ada di kamarku.
Huaah, masih ngantuk. Ingin aku merentangkan kakiku di pulau kapuk lagi. Tapi kak re udah manggil dengan suaranya yang berat dari bawah.

bruggg…
Aahh…  aku jatuh di tangga, aku melihat dengan mata yang masih kereyep kereyep kalo ternyata kak re Cuma tertawa.. ish adiknya jatuh ga ditolongin! Bukannya kasih contoh yang baik..

“sakit? Cupcup” ucap kak re sambil membantu aku berdiri tanpa kruk.
“aku bukan anak kecil lagi” balasku masih dengan mata tertutup.
“oh udah remaja ya? Hemm….” Ucapnya.
“lagian sih lucu, mata masih belekan, belum dibersihin aja udah turun” sambung kak re.
“ieeh.. tadi siapa yang manggil manggil pake bahasa Madura eh aussie?” balasku mulai membuka mata.
“iya deh.. dikira cecep nungguin kak re..” balasnya.
“yeeh iya sih emang, tapi ga segitunya kaaak.. haah diganggu aja sih lagi tidur” ujarku lalu berjalan meninggalkan meja makan dan aku menjatuhkan badanku ke sofa, dan pluk.. nyaman rasanya….
Gak lama, balik lagi ke alam mimpiku….

cinta pertama dan terakhir (1)

Diposting oleh Unknown di 05.12 0 komentar
 JJJ

Istora senayan bergema dengan teriakan teriakan para supporter basket.
“tomy, tomy, tomy”  kapten basket dengan nomor punggung 4 dengan lincah berlarian kesana kemari merebut bola dari lawan.
Aku tersenyum dan melambaikan 5 jariku pada sang kapten.
Dia pun membalas dengan senyumannya yg khas.
Siapa yang gak histeris kalo ngeliat dia…. Kapten basket yang ganteng, tajir, keren dan murah senyum itu menjadi idola tersendiri di sma harapan bangsa.

Pertandingan selesai… para supporter dari sma harapan bersorak kegirangan karena menang. Mereka juga berebutan untuk menyalami tomy.
“selamat ya” ucapku setelah semuanya bergegas pulang.
“thank you cecep” balasnya sambil mengacak rambutku.

***
Aku dan dia adalah sahabat semenjak kejadian di puncak 1 tahun lalu, yang membuat kaki kiriku lumpuh tak berdaya.
Aku cukup gengsi memang, bersahabat dengan orang yang dari dulu aku kagumi, dan Orang yang mungkin gak tahu apa isi hatiku sebenarnya.

Dia tidak tahu…
Kalau sebenarnya perasaanku lebih dari teman. Dia juga tak tahu kalau aku mencintainya tulus, bahkan aku rela demi dia.

***


@school

Bel berbunyi dengan cukup keras..
Aku buru buru mengambil tongkatku karena sekarang jam istirahat.
Tomy gak sekelas sama aku, dia kelas 11A ipa, sementara aku 11B ips.

Langkahku berhenti karena melihat sherra cs.
Anak popular disekolah ini, dia juga anggota cheer, gak dikit anak cowok yang naksir mereka.

“ehh….” Sherra dan losa menendang tongkatku, yang membuatku jatuh.
“hahaha” mereka tertawa seakan senang melihat aku terjatuh.
“mau lo apa?” ucapku ditengah tawa mereka.
“heeh, gue mau lo gak usah deket deket tomy,, lo mau jadi anak terkenal?? Yaya dulu, sebelum lo lumpuh, lo emang cantik.. gue akuin kok!! Tapi sekarang.. gue tendang aja udah jatoh.. haha” ucapnya sambil meremehkan aku.
“gue sahabatan sama tomy, lo sirik?” balasku sambil mencoba berdiri.
“isssh”
“cukupp” hampir aku ditampar sherra tapi digagalkan ketika tomy datang menghampiriku.
“ngapain lo disini? Udah sana” usir tomy kepada sherra cs.
“lo gak papa kan chev” ucap tomy dan berusaha membantuku berdiri.
Tumben dia manggil dengan nama asli aku.
“gapapa tom.. makasih ya” balasku.
“oke sip.. ayoo” tomy menarik lenganku
“kemana?”
“kantinn”

Aku udah terbiasa sama sifat tomy yang manja.
Dia juga baik banget sama semua orang, orang yang belum dikenal dia pun, dia kasih senyumm..
Pantes aja kalo banyak yang naksir.

“mau pesen apa?” tanyanya.
“woyyyy” teriaknya
“eehh sumprit dasar” tomy menarik hidungku.
“ahh lama lo” tomy ngirbit gak tau mesen apa.

Aku melamun.. yang ada dipikiran ku sekarang adalah..
Kapan tomy nyadar akan perasaan ku..
Aku sudah menunjukkan kalo aku suka dia, apa dia gak ngerti.
Apa dia terus aja anggap aku sahabat?

“nihh” tomy menaruh semangkok bakso dihadapanku.
“makan cecep” teriak tomy.
“iiiyya” balasku.
“lo kenapa si chev? Gara gara sherra tadi? Udah lahh” ucapnya..
   Tommm…. Bukan itu masalahnyaa..
   Aku mikirin kamu! Bukan sherra.
 “jangan dimasukin hati chev. Dia bukan apa apa, dia masih kalah sama lo!” ucapnya lagi.
   Iyaa dia kalah, karena aku udah bisa deket sama kamu.
   Tapi maksud kamu apa tom, dia kalah sama aku?
“lo lebih dari dia” ucapnya.
   Apa nya yang lebih coba.. jelas lahh dia cantik, kaya, cute..
   Gak kayak aku ini! Yang lumpuh L
“weyy.. jangan bengong” tomy mengibas ngibaskan tangannya di depan mukaku.
“iya iya” balasku.
“aneh lo chev hari ini, sakit?” Tanya tomy.
    Aku menggelengkan kepala.
“trus kenapa? Lo gak salah minum obat kan?” Tanya tomy.
“gimana rasanya pacaran yaa?” ucapku keceplosan.
   Tomy ketawa terbahak bahak..
   Aku bingung.. aneh sih memang,, dibanding dengan tomy yang punya mantan segudang, aku mah      jauh dari dia. Tapi kali ini, aku baru tahu yang namanya cinta.. aku punya rasa itu.
“jadii.. lo mikirin itu??? Wakakak” ucap tomy
“udah ah diem” balasku sewot..
   Ketawa dehh sepuas puasnya.. aku tahu yang pernah ngerasain pacaran beribu ribu kali. Gak kayak aku.


“jangan marah chev, suatu saat pasti lo juga ngerasain,” tomy tersenyum memandangku.
“iyaa nanti kalo udah nenek nenek” balasku memalingkan tatapan mata tomy.
“yeeh, jangan gitu dong, oh yah, nanti pulang bareng yaa, gue tunggu di parkiran byee” ucapnya dan pergi gitu aja, padahal bakso punya dia juga belum habis.. wah wah… tumben!!


###

Aku berjalan menyusuri koridor sekolah yang sudah sepi..
Tadi mr.ray ngasih pelajaran tambahan.. jadi pulang agak sore.
Aku berjalan tertatih menuju parkiran untuk memastikan apakah tomy benar benar masih menungguku.

Aku tersenyum ke arah parkiran.
Mobil sedan hitam dengan plat nomor  B.4DR14N.5Y4H nama belakang tomy.
Masih terparkir di tengah hujan yang sangat deras ini.
Tomy… kenapa gak pulang? Kan bisa aja dia males nungguin untuk seorang cewek penyandang lumpuh di kaki kirinya. L

Hujan cukup deras.
Aku berjalan tertatih menuju mobil tomy. Tampaknya tomi tertidur.
Aku mengetuk jendela mobilnya.  “tom, tomy” teriakku.
Bajuku basah kuyup.. aku menggigil kedinginan.
“cecep.. yaampun” tomy bangun dan langsung membukakan pintu mobilnya.
“heeeh, makasih tom lo masih nungguin gue, tadi gue kira lo udah pulang” ucapku sambil memeluk badanku yang basah.
“tar dulu, pake nih jacket.. lo lagi kedinginan gini masih aja nanya nanya.”blasnya.
aku mengambil jaket dari tangan tomy dan memakainya.
“lo kan bisa telpon gue chev, atau lo minjem payung bo minah dulu” ucap tomy perhatian.
“gue ga mau ngerepotin lo tom, selama ini gue terus yang ngerepotin lo” balasku.
“tapi……” brrrrkk…
Tomy menarik lenganku dan dia memelukku erat. Hangat pelukannya, parfume yang sekarang dia pake adalah parfume pemberianku. Makasih tom..
Tapi apa tomy ada rasa sama aku?
Magnet lo terlalu kuat, yang akhirnya bisa buat gue sayang sama lo!! Gue udah lumpuh gini aja, lo masih baik sama gue..

“makasih tom…. Lo masih mau nerima gue walau gue udah….”
“stop. Yang namanya sahabat slalu ada dimanapun.. gue lebih seneng punya sahabat kayak lo dibanding punya pacar kayak sherra” balasnya sambil menyalakan mesin.
“lo dulu kenapa suka sama dia?” tanyaku.
“yah gak tau deh… dulu karena gue gak tau sifat asli dia, yang gue tahu dulu dia perfect, tapi sekarang no!!” ucapnya.
“ohh….” Balasku.

###
Gak terasa rumahku udah didepan mata.
Tomy menghentikan mobilnya tepat di depan pagar rumah.
Hujan juga masih belum bisa diajak kompromi. Petir petir terus menyambar.
“makasih tom, oh ya nih jaketnya” ucapku seketika ingin keluar.
“udah bawa, buat lo juga ga papa kok chev, liat tuh hujan masih deras… gue ga mau ya kalo lo hari senen ga masuk” balas tomy
Aku tersenyum lalu keluar dari mobil. Tak lupa aku melambaikan tangan ke arahnya.
 

The Rainbow Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos